BAB I, Perilaku Belajar
Saat menulis bibliografi seharusnya kita punya satu tujuan yaitu merangsang keinginan pembaca untuk memahami lebih dalam teks bacaan yang telah dibaca. Jika suatu bibliografi tidak punya tujuan tersebut maka berkuranglah daya tarik teks bibligrafi tersebut. Dan bibliografi sendiri tidak boleh menjadi bacaan yang dogmatis, semestinya bibliografi menawarkan tantangan bagi para pembaca. Bagi freie ada 3 tipe pembaca yang harus diperhatikan dalam menyusun bibliografi, yaitu pembaca yang jadi target utama, penulis yang bukunya tercantum, penulis-penulis bibligrafi lainnya.
Belajar adalah pekerjaan yang sangat berat karena menuntut sikap kritis-sistematis. Dan sikap ini tidak dpat dihasilkanoleh system pendidikan bank (banking education). Mata pelajaran memang mencerdaskan siswa tetapi kecerdasan yang hanya bergantung pada teks, dan ini tidak akan menjadi kritik dasar terhadap teks tersebut, intinya pendidikan bank ini lebih menekankan hafalan terhadap teks, bukan mementingkan pemahaman akan isi. Berbeda dengan visi pendidikan kritis: seorang pembaca merasa tertantangoleh teks yang diberikan kepadanya dan tujuan membaca ialah memahami makna teks lebih dalam.
5 cara freire untuk mengembangkan sikap kritis dalam belajar:
a. Pembaca harus mengetahui peran dirinya. Belajar adalah sebuah bentuk penemuan kembali, penciptaan kembali, penulisan ulang, dan ini adalah tugas seorang subjek. Seorang pembaca harus memahami teks secara serius bukan hanya menghafal pemikiran penulisnya, jika hanya menghafal pemikirannya seorang pembaca menjadi terbelenggu, sebab semua manusia adalah subjek bukan objek.
b. Pada dasarnya praktik belajar adalah bersikap dengan dunia. Sebenarnya sebuah teks menjelaskan pergulatan penulis dengan dunia dan bahkan ada yang tidak begitu menjelaskan hubungannya dengan dunia. Dengan demikian, belajar adalah memikirkan pengalaman dan memikirkan pengalaman merupakan cara berpikir dengan benar.
c. Kapan saja kita mempelajari sesuatu, kita dituntut untuk akrab dengan bibliografi yang dibaca.
d. Perilaku belajar mengasumsikan hubungan dialektis antara pembaca dengan penulis, dialektika ini melibatkan pengalaman penulis dengan pengalaman pembaca.
e. Perilaku belajar menuntut rasa rendah hati. Jika kita mempunyai sikap rendah hati dan kritis kita tidak akan merasa bodoh dalam menghadapi kesulitan untuk memahami makna sebenarnya dalam suatu bacaan. Semua teks yang kita baca tidak selamanya mudah untuk dimengerti, maka dari itu kita dituntut untuk terus meningkatkan diri menjadi lebih baik, ketika kualitas diri kita sudah baik, bacalah kembali teks tersebut. Bagi freire, tidak akan berguna jika kita meneruskan membaca teks yang tidak dimengerti karena Belajar bukan hanya menerima ide, tapi menciptakan ide.
BAB II, Sebuah Pandangan Kritis dalam Pemberantasan Buta Huruf
Banyak yang memandang orang yang buta huruf sebagai racun yang harus dimusnahkan, buta huruf ini tidak dapat dibiarkan. Maka dari itu, pemecahan masalah ini tergantung pada keluasan pengetahuan dan pengalaman pihak-pihak yang terlibatdalam dunia pendidikan. Pelajaran membaca diterapkan dengan system mekanis dan hanya menyetorkan kata-kata kepada orang yang buta huruf, kata-kata yang diajarkan kepada siswa ini layaknya mantra yang jika dibacakan mantra tersebut maka yang dituju akan berkelakuan sesuai yang diminta si pembaca mantra dan hanya mengikuti saja. Orang yang buta huruf dianggap hilang dan akan dianggap ada jika mereka telah menerima kata-kata yang diberi oleh gurunya, dan guru sendiri tidak sadar bahwa mereka menjadi agen politik pemerintah untuk mengkampayekan program pemberantasan korupsi.
Teks
Secara metodologis dan sosiologis, buku-buku yang ditulis secara mekanis sejatinya tidak akan dapat menghilangkan dosanya sebagai alat penyetor kepada siswa. Tujuan pembuat buku untuk melakukan transfusi, dimana pendidik menjadi darah yang menyelamatkan, dan siswa dinggap sebagai makhluk yang pasif, hanya mendapat transfusi secara terus-menerus dan dapat mengucilkan dia sertatidak dapat berbuat apa-apa dalam proses transformasi sosial. Dengan mengguakan kata-kata ideologis, justru buku-buku ini mempertahankan budaya bisu dan sejatinya buku ini tidak dapat digunakan sebagai alat transformasi sosial.
Siswa
Jikalau diamati secara kritis buta huruf bukanlah racun dan akar dari buta huruf bukan persoalan pendidikan atau linguistik yang besar, namun berakar pada persoalan politik. Program untuk pemberantasan buta huruf ini bukanlah dengan cara mekanis, seharusnya dimulai dengan menyadari siswa akan hak-haknya dengan keberadaan mereka didunia. Cara belajar yang hanya menirukan yang diucapkan gurunya memberi kesan bahwa pemberantasan buta huruf ini reaksioner dan menyesatkan karena pada dasarnya proses belajar adalah pemahaman yang mendalam akan kata. Siswa dan guru perlu menyatukan pemikiran-pemikiran yang tepat dengan menyatuka teori dengan praktik, lawan dari praktik bukanlah teori melainkan pemikiran-pemikiran kosong. Jika kita tidak dapat menghubungkan teori dengan verbalis, sama saja kita tidak bias menghubungkan antara praktik dengan aktivisme. Maka tak aneh jika para verbalis menganggap orang aktivisme hanya sedikit kontribusinya. Sebaliknya, aktivisme menganggap, sebagai teoritisi tidak melakukan apa-apa kecuali hanya menjual pemikirannya dengan harga murah. Dan Freire berada ditengah-tengah (asimilasi).
Teori dan Praktik
Untuk memahami hubungan teori dan praktikdi suatu daerah kita harus memhami terlebih dahulu hubungan teori dan praktik sosial dalam kehidupan masyarakatnya, teori dan praktik pendidikan tidaklah bias bersikap netral. Hubungan teori dan praktik berorientasi pada pembebasan merupakan satu hal yang harus dicatat, sedangkan hal lain masih diupayakan “domestifikasi” dalam pendidikan. Secara praktis, hal pertama yang harus dibicarakan secara kritis ialah kata-kata generatif, kata-kata inilah yang membuat siswa pada awalnya buta huruf menjadi melek huruf. Penguasaan kosa kata merupakan hal yang sangat penting, dimana siswa dapat menjelaskan dunia dengan kata-kata sendiri dan hendaknya buku-buku pelajaran bukanlah tulisan yang sudah jadi namun berisi cara meletakkan masalah. Dalam pendidikan kritis hal yang terpenting adalah menyeleksi kata-kata generatif sesuai dengan tingkat-tingkat bahasa termasuk pragmatik, namun bias menyesuaikan dengan daerahnya. Dalam tradisi masyarakat kata-kata generatif digunakan dalam kondisi yang betul-betul bermasalah, inilah tantangan yang meminta jawaban dari siswa. Mempermasalahkan kata yang dipakai masyarakat berarti mempermasalahkan unsur tematik yang mengacunya, hal ini perlu dilakukan analisa lebih dalam, dan kenyataanlah yang akan menjawab apa yang ada dibalik kenyataan. Sampai disini sisiwa mengapresisasi bahwa sebagai manusia, to speak tidak sama dengan to utter.
Buta Huruf dan Melek Huruf
Buta huruf merupakan derevasi dari masalah sebelumnya yang kemudian menjadi maslah sendiri, orang yang buta huruf dikarenakan kondisi yang memaksanya, misalnya karena kebudayaan. Freire menegaskan bahwa program pemberantasan buta huruf ini dimulai dengan menyadarkan siswa memahami kenyataan sebagai suatau kesatuan yang utuh. Berbeda dengan pendidikan yang reaksioner, kenyataan
Pemberantasan Buta Huruf yang Transformatif
Siswa yang cara berpikirnya selalu memahami persoalan kehidupan secara kritis, maka mereka akan lebih diakui dunia. Siswa belajar berdasarkan pada pengalaman sosialnya untuk meningkatkan dirinya dalam melakukan transformatif. Sebagai aktor mereka melakukan transformasi dengan cara menekuni pekerjaannya dan menciptakan dunianya sendiri, setelah menangkap makna kreatif dan generatifdalam transformasinya mereka juga akan menemukan makna baru. Melalui proses itulah mereka dapat menyimpulkan:
1. Hambatan untuk mendapat hak belajar karena rendahnya apresiasi terhadap hasil kerjanya.
2. Apresiasi ini sebagai cara untuk mendapatkan pengetahuan sehingga tidak beralasan sampai menjadi buta huruf.
3. Kebodohan dan kepandaian seseorang itu tidak absolut.
Selama Freire di Cili, ada seorang petani yang bilang ke dia, “sekarang saya tahu bahwa saya adalah orang yang berbudaya”, kemudian Freire menjawab “mengapa kamu berkata seperti itu”, lalu petani menjawab, “karena dengan bekerja dan dengan berkarya itulah saya merubah dunia”. Pengakuan ini menunjukan kehidupan praktis masyarakat menyadari bahwa dirinya bukan hanya berada di namun juga bersama dengan dunia ini. Berdasarkan pengalaman sosial orang yang buta huruf, kita dapat menyimpulkan bahwa dari berbagai program pemberantasan buta huruf hanya kemampuan membaca dan menulis secara kreatif dapat menguji pemahaman kritis mereka atas pengalaman hidupnya. Dan hal inilah yang menjadi awal dari pembebasan nasib dirinya, dan tentu ini bukanlah pekerjaan kelas-kelas yang dominan.
Kritik
Setelah saya membaca 2 bab buku Paulo Freire yang berjudul The Politic Of Education: Culture, Power and Liberation. (Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasan dan Pembebasan). Pemikiran yang kritis dan tidak mudah untuk memahaminya, terkadang berulang kalisaya membacanya untuk memahami makna yang terkandung dalam tulisan Freire. Setiap sub bab saya pahami dan saya renungkan dengan pengalaman sosial saya. Dan saya sependapat atas pemikiran Freire tentang dunia pendidikan karena, pertama Freire menyimpulkan pemikirannya tidak hanya berdasarkan pada argumen belaka namun pemikirannya berdasarkan realitas, ia terjun dan pelajari di berbagai daerah dengan waktu yang lama, kedua karena Freire datang keberbagai daerah, ia menjadi tahu dan memahami bahwa setiap daerah tidak bisa disamakan dalam hal verbalis dan aktivis. Lalu saya renungkan dengan pengalaman sosial saya, memang untuk transformatif yang lebih optimal perlu ditanamkan sejak dini. 12 tahun sudah saya mengikuti pendidikan formal seperti SD, SMP dan SMA, sistem pendidikan yang diterapkan merupakan pendidikan bergaya bank yaitu guru sebagai subjek dan siswa sebagai objek dan pendidikan yang reaksioner, kenyataan dilihat dengan parsial. Jadi, visi pendidikannya tidak membimbing siswa untuk melakukan perubahan secara menyeluruh. Terbelenggulah pemikiran siswa-siswa tersebut. Bagi Freire pendidikan adalah pembebasan.
Saran
Seharusnya sistem pendidikan di Indonesia bukanlah dengan cara mekanis, melainkan dimulai dengan menyadari siswa akan hak-haknya dengan keberadaan mereka didunia. Siswa belajar berdasarkan pada pengalaman sosialnya untuk meningkatkan dirinya dalam melakukan transformatif. Bagi Freire belajar bukan hanya mengkonsumsi ide, namun menciptakan dan menciptakan ide, dan ini memang pekerjaan yang berat dilakukan. Makanya sejak awal para siswa harus ditanamkan pemikiran kritis agar para sisiwa menyadari bahwa dirinya bukan hanya berada di namun juga bersama dengan dunia ini untuk melakukan transformatif. Salah satu caranya ialah dengan bekerja dan berkarya.